This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, 8 June 2015

LAPORAN PRAKTIKUM PEMERIKSAAN FESES PARASITOLOGI

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ilmu tentang parasit telah lama menunjukan peran pentingnya dalam bidang kedokteran hewan dan manusia namun masih banyak penyakit baik pada hewan dan manusia yang merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Pertumbuhan penduduk yang tinggi dan terjadinya urbanisasi yang tidak diimbangi sarana dan prasarana, telah menambah banyaknya dearah kumuh di perkotaan. Makin berkurangnya air bersih, pencemaran air dan tanah menciptakan kondisi lingkungan fisik yang memungkinkan perkembangan vektor dan sumber infeksi termasuk oleh penyakit parasitik.
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevelansinya terutama pada penduduk di daerah tropik seperti di Indonesia, dan merupakan masalah yang cukup besar bagi bidang kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan Indonesia berada dalam kondisi geografis dengan temperatur dan kelembaban yang sesuai, sehingga kehidupan cacing ditunjang oleh proses daur hidup dan cara penularannya.

Feses adalah sisa hasil pencernaan dan absorbsi dari makanan yang kita makan yang dikeluarkan lewat anus dari saluran cerna.Jumlah normal produksi 100 – 200 gram / hari. Terdiri dari air, makanan tidak tercerna, sel epitel, debris, celulosa, bakteri dan bahan patologis, Jenis makanan serta gerak peristaltik mempengaruhi bentuk, jumlah maupun konsistensinya dengan frekuensi defekasi normal 3x per-hari sampai 3x per-minggu.
Pemeriksaan feses ( tinja ) adalah salah satu pemeriksaan laboratorium yang telah lama dikenal untuk membantu klinisi menegakkan diagnosis suatu penyakit. Meskipun saat ini telah berkembang berbagai pemeriksaan laboratorium yang modern , dalam beberapa kasus pemeriksaan feses masih diperlukan dan tidak dapat digantikan oleh pemeriksaan lain. Pengetahuan mengenai berbagai macam penyakit yang memerlukan pemeriksaan feses , cara pengumpulan sampel yang benar serta pemeriksan dan interpretasi yang benar akan menentukan ketepatan diagnosis yang dilakukan oleh klinisi.
Pemeriksaan feses di maksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva infektif. Pemeriksaan ini juga dimaksudkan untuk mendiagnosa tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang di periksa fesesnya (Gandahusada.dkk, 2000). Pemeriksaan feses dapat dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif dilakukan dengan metode natif, metode apung, metode harada mori, dan Metode kato. Metode ini digunakan untuk mengetahui jenis parasit usus, sedangkan secara kuantitatif dilakukan dengan metode kato untuk menentukan jumlah cacing yang ada di dalam usus. Prinsip dasar untuk diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari pasien. Teknik diagnostik merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit cacing, yang dapat ditegakkan dengan cara melacak dan mengenal stadium parasit yang ditemukan.
Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya berdasarkan pada gejalaklinik kurang dapat dipastikan. Misalnya, infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang (Ascaris lumbricoides). Infeksi ini lebih bamyak ditemukan pada anak-anak yangsering bermain di tanah yang telah terkontaminasi, sehingga mereka lebih mudahterinfeksi oleh cacain-cacing tersebut. Biasanya hal ini terjadi pada daerah di mana penduduknya sering membuang tinja sembarangan sehingga lebih mudah terjadi penularan. Pengalaman dalam hal membedakan sifat berbagai spesies parasit, kista, telur, larva, dan juga pengetahuan tentang bentuk pseudoparasit dan artefak yang dikira parasit, sangat dibutuhkan dalam pengidentifikasian suatu parasit.    
B.     Tujuan
1.      Mengetahui pemeriksaan feses kualitatif dengan metode apung. 
2.      Mengetahui adanya telur parasit dalam sampel feses




BAB II
METODE PENGAMATAN
A. Macam-macam
Pemeriksaan telur cacing pada feses, terdapat dua macam cara pemeriksaan, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif.
1.      Pemeriksaan secara Kualitatif
I.1. Metode Natif (Direct slide)
Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau eosin 2%. Penggunaa eosin 2% dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telur-telur cacing dengan kotoran disekitarnya.
I.2. Metode Apung (Flotation method)
Metode ini digunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula atau larutan gula jenuh yang didasarkan atas BD (Berat Jenis) telur sehingga telur akan mengapung dan mudah diamati. Metode ini digunakan untuk pemeriksaan feses yang mengandung sedikit telur. Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis larutan yang digunakan, sehingga telur-telur terapung dipermukaan dan juga untuk memisahkan partikel-partikel yang besar yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur-telurNematoda, Schistostoma, Dibothriosephalus, telur yang berpori-pori dari familiTaenidae, telur-telur Achantocephala ataupun telur Ascaris yang infertil.
I.3. Metode Harada Mori
Metode ini digunakan untuk menentukan dan mengidentifikasi larva cacingAncylostoma Duodenale, Necator Americanus, Srongyloides Stercolaris danTrichostronngilus yang didapatkan dari feses yang diperiksa. Teknik ini memungkinkan telur cacing dapat berkembang menjadi larva infektif pada kertas saring basah selama kurang lebih 7 hari, kemudian larva ini akan ditemukan didalam air yang terdapat pada ujung kantong plastik.
I.4. Metode Selotip
Metode ini digunakan untuk mengetahui adanya telur cacing Enterobius vermicularis pada anak yang berumur 1 – 10 tahun.
2.      Pemeriksaan secara Kuantitatif
2.1. Metode Kato
Teknik sediaan tebal (cellaphane covered thick smear tecnique) atau disebut teknik Kato. Pengganti kaca tutup seperti teknik digunakan sepotong “cellahane tape”. Teknik ini lebih banyak telur cacing dapat diperiksa sebab digunakan lebih banyak tinja. Teknik ini dianjurkan untuk Pemeriksaan secara massal karena lebih sederhana dan murah. Morfologi telur cacing cukup jelas untuk membuat diagnosa.
B. Maksud dan Tujuan
1.      Metode Natif
Maksud           : Menemukan telur cacing parasit pada feses yang diperiksa.
Tujuan             : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit pada seseorang yang diperiksa fesesnya.
2.      Metode Apung (Floatation method)
Maksud           : Mengetahui adanya telur cacing parasit usus untuk infeksi ringan.
Tujuan             : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit usus pada seseorang yang diperiksa fesesnya.
3.      Metode Harada Mori
Maksud           : Mengidentifikasi larva cacing Ancylostoma Duodenale, Necator Americanus, Srongyloides Stercolaris dan Trichostronngilus spatau mencari larva cacing-cacing parasit usus yang menetas diluar tubuh hospes.
Tujuan             : Mengetahui adanya infeksi cacing tambang.
4.      Metode Selotip (Cellotape method)
Maksud           : Mengetahui adanya telur cacing Enterobius vermicularis pada anak yang berumur 1 – 10 tahun.
Tujuan             : Mengetahui presentase anak yang terinfeksi E. vermicularis.
5.      Metode Kato
Maksud           : Menemukan adanya telur cacing parasit dan menghitung jumlah telur.
Tujuan             : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit dan untuk mengetahui berat ringannya infeksi cacing parasit usus
C. Dasar Teori
Kecacingan merupakan salah satu mikroorgisme penyebab penyakit dari kelompok helminth (cacing), membesar dan hidup dalam usus halus manusia, Cacing ini terutama tumbuh dan berkembang pada penduduk di daerah yang beriklim panas dan lembab dengan sanitasi yang buruk. Terutamanya pada anak-anak. Cacing-cacing tersebut adalah cacing gelang, cacing cambuk dan cacing tambang dan cacing pita.
D. Alat dan Bahan
Alat:
1.      Penyaring teh
2.      Tabung reaksi
3.      Rak tabung
4.      Gelas ukur
5.      Batang pengaduk (Lidi)
6.      Object glass
7.      Cover glass
8.      Mikroskop
9.      Beaker glass

Bahan:
1.      Sampel tinja sebanyak 10 gram atau sebesar biji kacang
2.      NaCl jenuh 33%
E. Cara Kerja
Praktikum kali ini menggunakan metode kualitatif yaitu metode apung tanpa sentrifugasi, adapun cara kerja pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.      Siapkan alat dan bahan
2.      Tuangkan NaC33% jenuh kedalam beaker glass sebanyak 100 ml.
3.      Campurkan 100 ml NaCl jenuh dengan 10 gram tinja kemudian diaduk sehingga larut.
4.      Selanjutnya disaring dengan menggunakan penyaring teh.
5.      Masukkan campuran tinja dan larutan NaCl yang telah disaring tersebut ke dalam tabung reaksi hingga penuh dan terlihat cembung.
6.      Didiamkan selama 5-10 menit kemudian ditutup dengan cover glass, laluletakkan cover glaspada obyek glass.
7.      Selanjutnya letakkan preparat pada meja spesimen kemudian amati menggunakan mikroskop.




BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
  1. Hasil

No.
Nama
Umur
Alamat
Hasil
Keterangan
1.
Diok
8,5 tahun
Desa Ciberem Rt 01/02, Sumbang
Positif
Ditemukan telurcacing Ascaris lumbricoides
2.
Nesa
8 tahun
Desa Ciberem, Kec. Sumbang
Negatif
Tidak ditemukan telur, kista dan larva pada tinja
3.
Nurdin
9 tahun
Desa Ciberem, Kec. Sumbang
Negatif
Tidak ditemukan telur, kista dan larva pada tinja

B. Pembahasan
B.1. Percobaan 1
Dari percobaan yang kami lakukan dengan menggunakan metode Apung seperti pada tabel diatas, dapat diketahui bahwa telur Ascaris lumbricoides  diperoleh  hasil pemeriksaan positif, sedangkan pada telur selain Ascaris lumbricoides diperoleh hasil negatif sehingga anak tersebut menderita Ascariasis.
Gambar Telur Ascaris lumbricoides
Berdasarkan pemeriksaan feses dengan metode apung yang telah dilakukan, ditemukan telur cacing Ascaris lumbricoides fertil pada feses anak SD kelas 2 bernamaDiok. Telur tersebut memiliki ciri-ciri berbentuk oval, memiliki dinding ysng terdiri dari tiga lapis. Lapisan terluar telur memiliki permukaan yang tidak rata, bergerigi, warnanya kecoklat-coklatan karena pigmen empedu, lapisan ini dinamakan lapisan albuminoid. Lapisan tengah berupa lapisan kitin sedangkan lapisan dalam berupa membran vitelin.Ciri-ciri yang telah disebutkan sesuai dengan ciri-ciri telur Ascaris lumbricoides yang fertil, sehingga Diok dinyatakan positif terinfeksi parasit Ascaris lumbricoides.
Ascaris lumbricoides adalah cacing parasit usus yang ukurannya paling besar. Biasa disebut dengan cacing gelang yang hidup di vili duodenum dan jejunum. Jika di dalam telur cacing dalam feses, berarti ada cacing dewasa yang hidup di usus Diok. Jumlah telur yang ditemuakan pada spesimen didapatkan sekitar 8 butir dalam beberapalapang pandang, berarti Diok berada pada stadium infeksi sangat ringan. Menurut pemaparan ibu dari Diok, gejala yang dirasakan Diok diantaranya yaitu kurang nafsu makan, sehingga jarang buang air besar.  Walaupun masih dalam tahap ringan Diokharus segera mendapatkan pengobatan yang tepat agar infeksi tidak berlanjut pada tahap sedang.
Pengobatan yang bisa diberikan untuk penderita yaitu dengan obat piperasin, pirantel pamoat, albendazol dan mebendazol. Pengobatan dari Ascaris lumbricoides ini termasuk pada obat yang mudah diterima masyarakat karena pemakaiannya sederhana, efek sampingnya minim dan harganya termasuk murah. Jika tidak segera diobati cacing bisa lebih banyak bereproduksi dan telur cacing pada feses dapat mencemari lingkungan.
Infeksi cacing Ascaris lumbricoides pada Diok ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi kebersihan rumah, lantai yang masih terbuat dari tanah dapat menjadi tempat transmisi dari telur cacing tersebut. Tanahnya lembab dan sedikit basah sehingga memungkinkan telur dapat tumbuh dengan baik. Kurangnya frekuensi cuci tangan sebelum dan sesudah makan atau buang air besar. Diok juga suka bermain tanah di sekitar rumah semisal saat bermain kelereng, sehingga sangat memungkinkan telur cacing tertelan saat makan makanan ringan tanpa mencuci tangan
Infeksi oleh parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Diagnosis yang berdasarkan gejala klinik saja kurang dapat dipastikkan, segingga harus dengan bantuan pemeriksaan labolatorium. Bahan yang akan diperiksa tergantung dari jenis parasit, untuk cacing atau protozoa usus maka bahan yang diperiksa adalah tinja. Identifikasi terhadap kebanyakkan telur cacing dapat dilakukan dalam bebrapa hari setelah tinja dikeluarkan.
Oleh karena itu Untuk dapat mengatasi infeksi cacing secara tuntas, maka upaya pencegahan dan terapi merupakan usaha yang sangat bijaksana dalam memutus siklus penyebaran infeksinya. Pemberian obat anti cacing secara berkala setiap 6 bulan dapat pula dikerjakan. Menjaga kebersihan diri (Ian lingkungan serta sumber bahan pangan adalah merupakan sebagian dari usaha pencegahan untuk menghindari dari infeksi cacing. Memasyarakatkan cara-cara hidup sehat, terutama pada anak-anak usia sekolah dasar, dimana usia ini merupakan usia yang sangat peka untuk menanamkan dan memperkenalakan kebiasaan-kebiasaan baru.
Kebiasaan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala seperti :
·      Budayakan kebiasaan dan perilaku pada diri sendiri, anak dan keluarga untuk mencuci tangan sebelum makan. Kebiasaan akan terpupuk dengan baik apabila orangtua meneladani. Dengan mencuci tangan makan akan mengeliminir masuknya telur cacing ke mulut sebagai jalan masuk pertama ke tempat berkembang biak cacing di perut kita.
·      Pakailah alas kaki jika menginjak tanah. Jenis cacing ada macamnya. Cara masuknya pun beragam macam, salah satunya adalah cacing tambang (Necator americanus ataupun Ancylostoma duodenale). Kedua jenis cacing ini masuk melalui larva cacing yang menembus kulit di kaki, yang kemudian jalan-jalan sampai ke usus melalui trayek saluran getah bening. Kejadian ini sering disebut sebagai Cutaneus Larva Migran.
·      Gunting dan bersihkan kuku secara teratur. Kadang telur cacing yang terselip di antara kuku Anda dan selamat masuk ke usus Anda dan mendirikan koloni di sana.
·      Jangan buang air besar sembarangan dan cuci tangan saat membasuh. Setiap kotoran baiknya dikelola dengan baik, termasuk kotoran manusia. Di negara kita masih banyak warga yang memanfaatkan sungai untuk buang hajat. Dengan perilaku ini maka kotoran-kotoran ini akan liar tidak terjaga, sehingga mencemari lingkungannya. Dan, jika lingkungan sudah cemar, penularan sering tidak pandang bulu. Orang yang sudah menjaga diri sebersih mungkin sekalipun masih dapat dihinggapi parasit cacing ini.
·      Bertanam atau Berkebunlah dengan baik. Ambillah air yang masih baik untuk menyiram tanaman. Agar air ini senantiasa baik maka usahakan lingkungan sebaik mungkin. Menjaga alam ini termasuk bagian dalam merawat kesehatan.
·      Pedulilah dengan lingkungan, maka akan dapat memanfaatkan hasil yang baik. Jika air yang digunakan terkontaminasi dengan tinja manusia, bukan tidak mungkin telur cacing bertahan pada kelopak-kelopak tanaman yang ditanam dan terbawa hingga ke meja makan.
·      Cucilah sayur dengan baik sebelum diolah. Cucilah sayur di bawah air yang mengalir.
·      Hati-hatilah makan makanan mentah atau setengah matang, terutama di daerah yang sanitasinya buruk.
·      Buanglah kotoran hewan hewan peliharaan kesayangan Anda seperti kucing atau anjing pada tempat pembuangan khusus.
·      Pencegahan dengan meminum obat anti cacing setiap 6 bulan, terutama bagi Anda yang risiko tinggi terkena infestasi cacing ini, seperti petani, anak-anak yang sering bermain pasir, pekerja kebun, dan pekerja tambang (orang-orang yang terlalu sering berhubungan dengan tanah.
Jika penyakit kecacingan ini sudah menjangkit sebaiknya dilakukan pengobatan dengan cara penanganan untuk mengatasi infeksi cacing dengan obat-obatan merupakan pilihan yang dianjurkan. Obat anti cacing Golongan Pirantel Pamoat (Combantrin dan lain-lain) merupakan anti cacing yang efektif untuk mengatasi sebagian besar infeksi yang disebabkan parasit cacing. Intervensi berupa pemberian obat cacing ( obat pirantel pamoat 10 mg / kg BB dan albendazole 10 mg/kg BB ) dosis tunggal diberikan tiap 6 bulan pada anak untuk mengurangi angka kejadian infeksi ini pada suatu daerah .Paduan yang serasi antara upaya prevensi dan terapi akan memberikan tingkat keberhasilan yang memuaskan, sehingga infeksi cacing secara perlahan dapat diatasi secara maksimal, tuntas dan paripurna.
B.2. Percobaan 2
Percobaan kedua ini setelah diamati dari berbagai lapang pandang, pada sampel feses tidak ditemukan adanya telur cacing, atau dapat dikatakan bahwa Nesa tidak terinfeksi cacing parasit atau adanya kemungkinan terjadi kesalahan dalam Praktikum Pemeriksaan Feses ini.
Kesalahan yang mungkin terjadi dalam Praktikum kali ini adalah :
·         Kesalahan Praktikan, yaitu kesalahan pada saat melakukan praktikum. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat berupa kesalahan dalam melakukan langkah-langkah atau cara kerja Praktikum, kesalahan menggunakan alat-alat atau ketidakcermatan praktikan dalam mengamati preparat feses sehingga tidak dapat menemukan adanya yelur cacing dalam preparat tersebut.
·         Kesalahan pada pengambuilan sampel feses, yaitu kesalahan manusia/hospes, apakah diambil pada tempat pembuangan/kloset atau tidak langsung dari perianal, apakah tercampur dengan urin atau yang lainnya.
·         Kesalahan penyimpanan feses, yaitu kesalahan pada tempat yang digunakan sebagai tempat penyimpanan feses. Baik dari faktor suhu maupun kondisi ruangan yang tidak steril. Selain itu juga waktu antara pengambilan sampel feses dengan waktu dilakukannya Pemeriksaan yang terlalu lama juga dapat mempengaruhi hasil dari Pemeriksaan atau Praktikum ini.
Adapun hambatan-hambatan yang ditemui selama melakukan Praktikum Pemeriksaan feses kali ini adalah :
  1. Keterbatasan alat-alat praktikum, yaitu jumlah alat yang digunakan untuk praktikum yang kurang memadai, sehingga kelompok kami hanya melakukan Pemeriksaan dengan satu metode yaitu metode apung tanpa sentrifugasi sedangkan kelompok yang lain melakukan dengan dua metode yaitu metode apung dengan sentrifugasi dan tanpa sentrifugasi.
  2. Karena bahan yang digunakan pada Praktikum adalah feses, maka Praktikan harus menahan bau yang menyengat yang ditimbulkan dari feses tersebut.
B.3. Percobaan 3
            Percobaan ketiga setelah diamati dari berbagai lapang pandang, diperoleh hasil negatif (tidak ditemukan telur cacing). Hasil negatif pada metode yang dilaksanakan dapat disebabkan antara lain :
  1. Sampel tinja yang diperoleh dari orang yang sehat (tidak terinfeksi cacing parasit).
  2. Kurang ketelitian dan kecerobohan praktikan dalam melakukan praktikum. Misalnya pada metode apung, saat larutan feses didiamkan pada tabung reaksi, tabung reaksi goyang sehingga telur yang sudah terapung mengendap lagi.
  3. Kurangnya pemahaman praktikan pada bentuk morfologi telur maupun larva cacing parasit.
  4. Praktikan kurang paham tentang urutan kerja pada masing-masing metode.
  5. Pada saat diambil fesesnya, cacing belum bertelur sehingga tidak ditemukan telur pada feses.
Identifikasi parasit tergantung dari persiapan bahan yang baik untuk memeriksa dengan mikroskop, baik dalam keadaan hidup maupun sebagai sediaan yang telah dipulas. Hal yang menguntungkan adalah untuk mengetahui kira-kira ukuran dari bermacam-macam parasit tetapi perbedaan individual tidak memungkinkan membedakan spesies hanya dengan melihat besarnya. Tinja sebagai bahan pemeriksa harus dikumpulkan didalam suatu tempat yang bersih dan kering bebas dari urine. Identifikasi terhadap kebanyakan telur cacing dapat dilakukan dalam beberapa hari setelah tinja dikeluarkan (Kurt, 1999).




IV. PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Percobaan pertama yaitu sampel feses dari Diok positif terinfeksi cacing parasit usus Ascaris lumbricoides berdasarkan pengamatan morfologi telur cacing dari sampel feses segar. Pemeriksaan tersbut dilakukan dengan cara  metode apung (flotation metodhe).
Percobaan kedua dan ketiga yaitu masing-masing dari sampel feses Nesa dan Nurdin diperoleh hasil negatif terinfeksi cacing.
Metode apung (Floating method) adalah metode dengan menggunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula atau larutan gula jenuh yang didasarkan atas BD (Berat Jenis) telur sehingga telur akan mengapung dan mudah diamati. Metode ini digunakan untuk pemeriksaan feses yang mengandung sedikit telur.
Kelebihan dari metode ini adalah baik untuk semua jenis telur baik untuk infeksi berat dan ringan. Telur yang ditemukan terpisah dari kotoran.
Kekurangan dari metode ini adalah penggunaan feses banyak dan memerlukan waktu yang lama sehingga perlu ketelitian tinggi agar telur di permukaan larutan tidak turun lagi.
B.     Saran
Semua anggota keluarga hendaknya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, diantaranya sebagai berikut : Membuat jamban keluarga, meningkatkan higiene perseorangan, tidak buang air besar di sembarang tempat, tidak menggunakan tinja sebagai pupuk, perbaiki sanitasi lingkungan dan rajin  mencuci tangan.
Bagi para praktikan supaya lebih memperhatikan prosedur penelitian yang telah ditetapkan. Selain itu, para praktikan di tekankan untuk menjaga kebersihan agar tak ada penularan lanjutan dari telur yang ditemukan.


:santovi
Share:

Friday, 5 June 2015

Cryptosporidium sp

Cryptosporidium sp



Cryptoporidium sp menyebabkan penyakit Kriptosporodiosi.
Protozoa ini pertama kali ditemukan didalam lambung dan usus halus tikus oleh Tyzzer (1907). Semenjak itu Cryptoporidium sp telah diidentifikasi dari 170 spesies binatang, termasuk ayam, kalkun, babi, kuda, domba, anjing, tikus liar, burung, ikan, reptile. Dua laporan yang pertama mengenai infeksi pada manusia yaitu pada tahun 1976, yang menyerang anak berusia 3 tahun dengan keadaan immunocompetent dan orang dewasa dengan immunocompromised. Dari tahun 1976 sampai tahun 1982, kejadian infeksi pada manusia jarang dilaporkan. Pada tahun 1982 dalaporkan kejadian infeksi yang disebabkan meningkat drastic setelah diketahui criptosporodiosis infeksi opportunistic yang terjadi pada penderita AIDS.
Protozoa ini mempunyai siklus hidup yang kompleks melibatkan dari silus hidup seksual(Sporogoni) dan aseksual(Scyzogoni), tapi tidak memerlukan vector perantara ia mampu menyelesaikan siklus hidupnya dalam satu hospes. Ookista merupakan stadium infektif . Oosista keluar keluar dari tubuh hospes melalui feses.
Taksonomi
Kerajaan : Protista
Filum : Apicomplexia
Kelas : Sporozoasida
Ordo : Eucoccidiorida
Famili : Cryptosporidiidae
Genus : Cryptosporidium

Spesies : Cryptosporidium parvum (terdiri dari dua genotype,yaitu genotip 1 menyerang
Manusia,Serta Genotype 2 yang menyerang manusia,lembu dan mamalia lainya),
Cryptosporidium homnis (Pada manusia) Cryptosporidium baileyi (pada burung), Cryptosporidium felis (pada kucing),Cryptosporidium muris (pada ikan dan lembu), Cryptosporidium nasorum(pada ikan), Cryptosporidium serpentitis ( pada ular ),Cryptosporidium wrairi ( pada babi)
Ciri Morfologi
Cryptosporidium sp terdiri dari banyak spesiek tapi yang paling pathogen yaituCryptosporidium parvum yang menyebabkan diare kronis dan muntah
menyebabkan diare (kebanyakan kronis). Dalam siklus hidupnyaCryptosporidium sp mengalami beberapa kali perubahan bentuk (Stadium).
Berikut ini ciri morfologi :
-Sporozoit mempunyai bentuk seperti pisang dimana bagian anteriornya meruncing dan bagian posteriornya membulat.
-Gametosit dan skizon ukuran 2-4 mikro meter diproduksi dalam siklus hidupCryptosporidium parvum ,tapi jarang ditemukan pada feses manusia.
-Ookista Biasanya berbentuk bulat, berdiameter 4 - 6 um mengandung 4 sporozit yang tidak terlalu terlihat,refraktil, terdiri 1-8 granula yang menonjol dan dilapisi dua dinding tebal. Ookista resisten dan sangat resisten terhadap proses klorinasi tapi dapat mati dengan teknik pemasakan konvensional.

Distribusi Penyakit
Cryptosporidium sp tersebar diseluruh dunia(Kosmopolit). Ookista nyaditemukan pada spesimen tinja manusia di lebih dari 50 negara di enam benua. Di negara maju seperti AS dan Eropa, prevalensinya kurang dari 1 – 4.5 % dari hasil survei pemeriksaan tinja. Di negara berkembang, prevalensinya sangat tinggi berkisar antara 3 – 20 %. Anak-anak usia dibawah 2 tahun, mereka yang merawat binatang, pelancong, kaum homoseksual dan mereka yang kontak erat dengan orang-orang yang terinfeksi (keluarga, petugas kesehatan dan perawat di rumah penitipan anak) biasanya lebih mudah tertulari. KLB dilaporkan terjadi di tempat penitipan anak hampir diseluruh dunia. KLB juga di sebabkan oleh air minum yang tercemar (setidaknya 3 KLB besar yang pernah dilaporkan berkaitan dengan fasilitas air minum untuk umum); penularan dapat terjadi di tempat rekreasi yang menggunakan air seperti "waterslide", kolam renang dan danau; cuka apel yang tidak dipasturisasi yang terkontaminasi dengan kotoran sapi, pernah dilaporkan sebagai penyebab infeksi.
Cara Penularan
Infeksi penyakit ini dari bahan yang terkontaminasi seperti tanah, air, makanan yang tidak dimasak atau kontak dengan kotoran manusia atau hewan yang terinfeksi.Cara penularan melalui rute orofekal, yaitu penularan dari orang ke orang, dari binatang ke orang, melalui air dan penularan melalui makanan. Hal ini terutama terjadi diantara mereka yang biasa kontak dengan air tawar saat berenang. Tingginya resistensi oocysts Cryptosporidium terhadap disinfektan seperti khlor memungkinkan mereka untuk bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama dan masih dalam kondisi siap menginfeksi Parasit menginfeksi sel epitel saluran pencernaan dan parasit memperbanyak diri mula-mula dengan cara schizogony, diikuti dengan siklus seksual dengan membentuk ookista dan dapat ditemukan pada tinja. Ookista dapat hidup di lingkungan yang jelek dalam waktu yang lama. Ookista sangat resisten terhadap desinfektan kimia yang digunakan untuk menjernihkan dan disinfeksi air minum. Sekali waktu siklus autoinfeksi bisa terjadi pada manusia.
Siklus Hidup
Ookista yang telah mengalami sporulasi, terdiri dari 4 sporozoit, dikeluarkan melalui feses organism yang terinfeksi dan mungkin mengalami rute yang lain seperti melalui sekresi saluran pernafasan (1). Transmisi dari Cryptosporidium parvum dan Cryptosporidium hominis umumnya terjadi melalui kontak dengan air yang telah terkontaminasi. Banyak wabah yang terjadi di Amerika Serikat terjadi di taman air, kolam renang, dan pusat pelayanan umum (2). Setelah tertelan(dan mungkin terhirup) oleh hospes (3) eksistasi terjadi (a). Empat sporozoit dikeluarkan dari tiap ookista,menembus epithelial (b,c) usus dan jaringan lain seperti saluran pernafasan. Sporozoid akan berkembang menjadi tropozoit. Kemudian mengalami multiplikasi aseksual (skizogoni atau merogoni) (d,e) yang menghasilkan meront tipe I. merozoit yang dihasilkan meron tipe satu dapat mereinfaksi sel dan mengulang kembali siklus asekseual atau menginfeksi sel dan berkembang menjadi meront tipe II (f). Tiap meron tipe II akan membesaskan 4 merozoit. Diyakini hanya merozoit tipe II inilahyang mengalami multiplikasi seksual (gametogoni) menghasilkan mikrogametosit(g) dan makrogametosit(h). Mikrogamet keluar dari mikrogametosit akan membuahi makrogamet yang keluar dari makrogametosit dan menghasilkan zigot (i). Sekitar 80% zigot akan berkembang menjadi ookista berdinding tebal (j) dan 20% zigot berkembang menjadi ookista berdinding tipis (k). Ookista akan bersporulasi (berkembang menjadi sporozoit yang infektif). Keluarnya sporozoit dari ookista yang berdinding tipis akan menyebabkan autoinfeksi. Sementara ookista berdinding tebal akan keluar melalui feses dan apabila tertelan akan segera menginfeksi.
Patogenesis
Cryptosporidium sp terutama pada spesies Cryptosporidium parvum(spesies yang paling patogen) menyebabkan cryptosporidiosis yaitu penyakit Zoonosis yang sering menimbulkan gangguan gastroenteritis. Penyakit ini ditularkan secara fekal oral. Berbagai jenis mamalia, unggas, reptile, ikan, dapat bertindak sebagai sumber infeksi.
Criptosporidium melekat padaa mikrovili usus halus atau hidup bebas pada kripta mukosa usus menyebabkan malabsorpsi dan diare akibat kerusakan bagian mukosa. Pada orang yang memiliki kekebalan tubuh penyakit tidak terlalu parah dan bisa sembuh sendiri kerena system imun dapat melawan infeksi. Sedangkan pada penderita penderita immunodefisiensi panyakit ini dapat menjadi parah karena sistem imunnya yang rusak.
Ketika Cryptosporidium menyebar ke luar usus karena penyakit ini dapat menjadi dominan akibat tubuh kekurangan imun pada pasien AIDS, mereka dapat mencapai paru-paru, telinga, pankreas, dan bagian perut lainnya. Parasit dapat menulari biliary tract (sekitar lever), menyebabkan biliary cryptosporidiosis. Hal ini menyebabkan cholecystitis dan cholangitis.
Pada usus :
Mekanisme cryptosporidiosis menyebabkan diare pada manusia belum spenuhnya dapat dimengerti. Namun danya kegagalan absorbsi dan meningkatkan sekresi usus halus banyak dijumpai pada kasusu-kasus tersebut.
Adhesi/invasi dari merozoit/sporozoit Cryptosporidium parvum kemembran apical dari sel epitel usus meransang sel epitel usus untuk memproduksiprostaglandin shyntase, IL-8, dan TNF-ά .Adanya sel polymerase (oleh IL-8), aktifasi makrofag (oleh TNF-ά),diproduksinya prostaglandin (olehprostaglandin shyntasei) dan perubahan fungsi ion diperkirakan merangsang sekresi usus untuk merespon infeksi seluler terhadap Cryptosporidium parvum.Infeksi seluler juga pendataran dan juga bersatunya villi usus, merupakan kemungkinan kedua yang terjadi pada infeksi sel dan atau dalam respon imunologi seluler. Gambaran ini berhubungan dengan malabsorpsi, dan akan memperberat diare. Sebagai tambahan, adanya proses-proses apoptosis sel-sel yang mati dan enteric nervous system juga member peranan terhadap patofisiologi diare ini.
Pada gambaran histopatologi menunjukan adanya atropi villi, hyperplasia krypta, dan infiltrasi ringan sampai sedang ( biasanya sel plasma atau netrofil tetapi dapat juga makrofag dan liphosit) pada lamina propria.
Pada Saluran Empedu
Walaupun gambaran klinis dan radiologi dari billiary cryptosporidiosi telah dapt diketahui, namun patogenitas sepenuhnya belum dapat sepenuhnya dimengerti. Gambaran histopatologi yang diperoleh dari biopsy ampulla vateri menunjukan menunjukan infiltrasi submukosa, inflamasi periductus dengan oedema interstisial, infiltrasi neutrofil dan hyperplasia/dilatasi kelenjar periduktus.
Pada Saluran Pernafasan
Patogenitas dari respiratory cryptosporidiosis juga masih belum dimengerti.respiratory cryptosporidiosis melibatkan trakea, bronkus, dan jarang melibatkan parenkim paru, dapat ditemukan pada penderita immunosuppressed dengan gagal nafas. Dari tahun 1983 sampai 1996 diperkirakan ada 13 kasusrespiratory cryptosporidiosis yang hanya melibatkan region tracheobroncial atas. Cryptosporidium sp yang dideteksi secara mikroskop diparenkim paru hanya dua kasus, satu kasus yang diderita oleh penderita AIDS dan penderita lain dengan acute nonlymphatic leukemia.
Diagnosis
Dalam kondisi normal, infeksi dengan parasit ini hanya menimbulkan gejala kriptosporidiosis yang ringan. Pada penderita imunokompeten keluhan dan gejala dapat berupa enteritis ringan, diare cair tidak lebih dari 10 kali sehari,dengan tinja tidak berdarah dan tidak berlendir. Umumnya penderita juga mengalami demam ringan, malaise, mual, mutah, kejang perut, dan berat badan menurun. Penyakit akan sembuh sendirinya dalam waktu 2-10 hari.
Pada penderita imunodefisiensi(misalnya penderita AIDS) yang terinfeksi dapat menyebabkan diare berat mirip diare kolera sebanyak sampai 70 kali seharidengan pengeluaran cairan lebih dari 10 liter per hari yang berlangsung berbulan-bulan. Penderita mengalami malabsorpsi berat, gangguan keseimbanagan cairan, berat badan menurun cepat dan terjadi limfadenopati. Pada immunodefisiensi demam jarang terjadi.
Untuk memperoleh diagnosis yang akurat perlu dilakukan pemeriksaan di laboratorium. Pemeriksaan mikroskopis pada tinja penderita menunjukkan adanya ookista parasit yang khas bentuknya. Pemeriksaan hitologis atas biopsi mukosa dengan menggunakan modifikasi ABF (Acid Fast Staining) atau pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop fluoresen,menunjukan adanya parasit dalam jaringan . Deteksi dengan pewarnaan antibody monoclonal dapat memperkuat diagnosis. Pemeriksaan serologis misalnya dengan ELISA (Enzym Linked Immunosorbant assay), Immunofluorescens Antibody Technique(IFAT0 serta deteksi IgG dan IgM dalam membantu menetapkan diagnosis.
Terapi dan Pengobatan
Tidak ada obat yang bisa diandalkan untuk pengobatan radang usus cryptosporidium. Obat tertentu seperti paromomycin, atovaquone, nitazoxanide, dan azithromycin kadang-kadang digunakan, tetapi biasanya hanya memiliki efek sementara. Kesulitan ini terutama terjadi untuk orang dengan penyakit parah dan sistem kekebalan yang lemah.
Pengobatan bisa manjur pada tahap awal penyakit. Cairan-cairan perlu terus diganti secara oral (banyak minum). Dalam situasi langka, cairan darah mungkin diperlukan. Antibiotik biasanya tidak bermanfaat, dan kekambuhan ulang sering terjadi.
Pada immunokompeten (imun sehat)
Mayoritas individu dengan immuno-kompeten mengalami penyakit ini dalam waktu singkat (kurang dari 2 minggu) yang membutuhkan perawatan dengan pencegahan pada dehidrasi yaitu banyak minum air dan kadang-kadang menggunakan obat anti-diarrhoeal. Nitazoxanide adalah salah satu obat yang telah disetujui FDA (badan obat-obatan USA) untuk digunakan pada orang dengan immunocompetent untuk memerangi diare. Spiramycin dapat membantu memperpendek lama diare pada anak-anak.
Pada immunocompromised (imun rendah)
Pada immunocompromised seperti pengidap AIDS, penyembuhan penyakit cryptosporidiosis berjalan lambat atau bisa juga tidak dapat disembuhkan sama sekali. Sering menyebabkan kondisi parah dan permanen terutama dalam bentuk diare berair yang digabungkan dengan menurunnya kemampuan usus untuk menyerap gizi. Hasilnya adalah penyakit akan semakin parah : dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, kekurangan gizi, kekurangan tenaga, dan akhirnya mati. Spiramycin dapat membantu dalam merawat pasien diare yang sedang dalam tahap awal AIDS.
Tingkat kematian bagi pasien yang terinfeksi AIDS pada umumnya didasarkan pada jumlah CD4; pasien dengan CD4 lebih dari 180 sel / mm ³ umumnya sembuh dengan dukungan dan perawatan dari obat rumah sakit, tetapi pasien dengan CD4 di bawah 50 sel / mm ³, efeknya biasanya fatal dalam tiga sampai enam bulan. Kasus (langka) : seorang pasien AIDS dari Iran yang telah mengalami pulmonary cryptosporidiosis selain cryptosporidiosis usus, pemberian azithromycin dan paromomycin membantu menghapus infeksi dari tubuhnya.
Saat ini, pendekatan yang terbaik adalah bagaimana meningkatkan status kekebalan pada pasien dengan immunodefisiensi. Probiotic Saccharomyces boulardii dijual melalui apotik-apotik dan toko-toko kesehatan (dengan nama merek obat Florastor di Amerika Serikat dan DiarSafe di Inggris) telah ditemukan untuk menjadi bermanfaat dalam perawatan diare dan gejala penyakit lainnya termasuk cryptosporidium. Parenteral octreotide asetat dapat membantu menurunkan jumlah kotoran yang keluar.
Cara -Cara Pemberantasan.
1.Cara pencegahan:
-Berikan penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara menjaga kebersihan perorangan.
-Membuang tinja pada jamban yang saniter, hati-hati dalam menangani kotoran manusia atau binatang.
-Mereka yang kontak dengan anak sapi atau binatang lain yang terkena diare sebaiknya segera mencuci tangan dengan seksama.
-Rebus sampai mendidih air minum selama 1 menit; disinfeksi dengan bahan kimia tidak efektif melawan oocyst. Hanya filter yang dapat menyaring partikel dengan diameter 0,1 – 1 µm yang bisa di gunakan untuk menyaring oocyst.
-Pindahkan orang yang terinfeksi dari pekerjaan menangani jenis bahan makanan yang tidak segera akan dimasak.
-Pisahkan anak yang menderita diare dari tempat penitipan anak hingga diare sembuh.
2.Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar.
-Laporan kepada instansi kesehatan setempat; kasus dilaporkan ke instansi kesehatan setempat dengan cara yang paling praktis, kelas 3B (lihat tentang pelaporan penyakit menular).
-Isolasi : bagi penderita yang dirawat di Rumah Sakit, lakukan tindakan kewaspadaan enterik dalam menangani tinja, begitu juga terhadap muntahan dan sprei serta sarung bantal dan baju yang terkontaminasi; orang yang terinfeksi tidak diijinkan menangani makanan dan merawat pasien yang dirawat di Rumah Sakit dan tidak diperkenankan merawat pasien yang dirawat di tempat spesifik; penderita asimptomatik yang bekerja pada bidang pekerjaan yang sensitif tidak diijinkan lagi bekerja sampai mereka sembuh. Tekankan tentang pentingnya kebiasaan mencuci tangan dengan benar.
-Disinfeksi serentak: dilakukan terhadap tinja dan barang-barang yang terkontaminasi dengan tinja. Pada masyarakat modern dengan sistem jamban saniter, tinja dapat dibuang langsung ke saluran pembuangan tanpa perlu di disinfeksi. Lakukan pembersihan terminal. Disinfeksi dapat dilakukan dengan pemanasan hingga 450 C (1130F) selama 5 – 20 menit, 600 C (1400 F) selama 2 menit atau disinfeksi kimia dengan 10 % cairan formalin atau 5 % ammonia, cara-cara tersebut cukup efektif.
-Investigasi kontak atau sumber infeksi: Lakukan pemeriksaan mikroskopis terhadap tinja anggota rumah tangga dan kontak lain yang dicurigai, terutama orang-orang tanpa gejala. Terhadap mereka yang kontak dengan hewan ternak dan binatang peliharaan diharuskan juga untuk dilakukan pemeriksaan. Jika dicurigai penularan terjadi melalui air, penyaringan air dalam jumlah sampel yang besar dapat dilakukan untuk melihat adanya oocyst pada air.
-Pengobatan spesifik : Tidak ada pengobatan spesifik untk kriptosoridiosis selain rehidrasi, jika diperlukan, rehidrasi telah terbukti efektif; pemberian antibodi pasif dan antibiotik saat ini sedang dalam penelitian. Mereka yang dalam pengobatan dengan obat imunosupresif, sebaiknya menghentikan pengobatan itu untuk sementara atau mengurangi dosisnya jika memungkinkan.
3.Penanggulangan wabah
Untuk menanggulangi wabah perlu dilakukan Investigasi epidemiologis terhadap kasus yang berkelompok yang terjadi pada suatu daerah atau institusi tertentu untuk mengetahui sumber infeksi dan cara-cara penularannya; selidiki kemungkinan sumber penularan "Common source", seperti sarana rekreasi air, air minum, susu mentah atau makanan atau minuman yang potensial tercemar dan lakukan upaya pencegahan dan pemberantasan yang mudah di terapkan. Upaya untuk mencegah penularan dari orang ke orang atau dari binatang ke manusia menekankan pada upaya kebersihan perorangan dan pembuangan tinja yang saniter.

:santovi

Share:

Definition List

Unordered List

Support