This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Friday, 5 June 2015

MEDIA Bag 2 (Bakteriologi)

Selektif dan Diferensial Media
Media Perbenihan yang dapat digunakan untuk memisahkan koloni satu jenis bakteri dari koloni-koloni lain serta dapat memberi ciri yang khas untuk bakteri golongan tertentu. Dibawah ini adalah contoh dari selektif dan differensial media:
Blood Agar Plate (BAP)
Kegunaan : Untuk isolasi dan pertumbuhan berbagai macam mikroorganisme,terutama
yang phatogen dan menetapkan bentuk hemolisa dari bakteri-bakteri tersebut.
Prinsip kerja : Media kultur ini kaya nutrient yang menyediakan kondisi pertumbuhan yang optimal untuk semua mikroorganisme yang relefan.Ph 6,8 menstabilkan sel darah merah dan menyokong bentuk zona hemolisa yang jelas. Darah kambing yang di defibrinasi yang segar adalah yang paling cocok untuk menentukan bentuk hemolisis.
Kandungan : Nutrien substrat (ekstrak hati dan pepton), NaCl, Agar-agar, Darah kambing
Cara Kerja :
  1. Suspensi bakteri ditanam dengan cara goresan sejajar pada empat kudaran media.
  2. Inkubasi 24 jam suhu 370C
  3. Lihat ciri-ciri koloni.
  4. Koloni (ingin diperiksa) yang terpisah dapat digunakan untuk pemeriksaan lanjut.
Cara pembuatan
Larutkan 40 g/L, autoclave (min15 pada suhu 1210C) didinginkan sampai suhunya 45-500C tambah darah yang di defibrinasi campurkan. PH 6,8 ± 0,2 pada suhu 250C
Sebelum penambahan darah, media berwarna bersih coklat kekuning-kuingan, darah berwarna merah dan tidak hemolisis.
Bakteri hemolisa B : S.aureus, S.pyogenes, B.cereus,Cl. Perfringen
Bakteri hemolisa a : K. penumonia
Media selektif bersifat umum untuk bakteri gram positif dan gram negative.
Gambar : BAP yang ditumbuhi bakteri. 
Mac Conkey "M"
Kegunaan : Media selektif dan differensial untuk bakteri gram negative batang
Prinsip kerja : Garam empedu dan Kristal violet menghambat pertumbuhan bakteri gram positif. Laktosa dan PH indicator merah netral digunakan untuk mendeteksi penurunan laktosa (bakteri yang dapat memfermentasikan Laktosa atau tidak)
Kandungan : Pepton dari kasein, pepton dari daging, NaCl, campuran garam empedu, merah netral, Kristal violet, agar-agar.
  1. Suspensi bakteri ditanam dengan cara goresan sejajar pada empat kudaran media.
  2. Inkubasi 24 jam suhu 370C
  3. Lihat ciri-ciri koloni.
  4. Koloni (ingin diperiksa) yang terpisah dapat digunakan untuk pemeriksaan lanjut.
Cara pembuatan:
Larutkan 50g/L, autoclave 15 menit 1210C, tuangkan pada plate, PH 7.1 ± 0.2 pada suhu 25 0C
Gambar : Mac Conkey agar plate yang ditumbuhi bakteri.
Manitol Salt Agar (MSA)
Kegunaan : Madia selektif dan differensial media bersifat yang bersifat khusus (bakteri tertentu),untuk mendeteksi bakteri Staphylococcus petogen ( S. aureus)
Prinsip kerja : Hanya mikroorganisme yang tahan terhadap garam yang dapat tumbuh pada media ini, karena konsentrasi garamnya yang tinggi.Penurunan dari manitol, warna berubah dari merah menjadi kuning penanda Staphylococcus yang phatogenic s. aureus( koloni kecil )
Kandungan : Pepton, ekstrak daging, manitol, sodium klorida, manitol, phenol red,agar2.
Hasil Positif (tersangka) : koloni kecil warna media di sekotar koloni berubah dari merah menjadi kuning.
Cara Kerja :
  1. Suspensi bakteri ditanam dengan cara goresan sejajar pada empat kudaran media.
  2. Inkubasi 24 jam suhu 370C
  3. Lihat ciri-ciri koloni.
  4. Koloni (ingin diperiksa) yang terpisah dapat digunakan untuk pemeriksaan lanjut.
Cara pembuatan
Larutkan 108 g/L autoclave (15 menit pada suhu 121 0C),tuang pada plate PH 7.4 ± 0.2 pada suhu 25 0C.
Staphylococcus aureus mampu memfermentasikan media ini(merah menjadi kuning).
Gambar : MSA agar yang ditumbuhi bakteri yang dapat mefermentasikan manitol,
TBX
Kegunaan : Media selektif khusus untuk bakteri E. coli
Gambar : TBX yang di tumbuhi bakteri E. coli
TCBS (Thiosulfate Citrat Bile Sucrose agar)
digunakan untuk isolasi dan pertumbuhan selektif dari Vibrio cholera dan vibrio enterophatogenic yang lain.
Prinsip kerja :konsentrasi thiosulfat dan citrate dan dan kuatnya alkalinitas dari media ini sebagian besar menghambat pertumbuhan enterobactericeae. Empedu lembu jantan dan coklat terutama menekan enterococci. Beberapa bakteri colifirm, yang mungkin bisa tumbuh tidak metabolisme sucrose. Hanya sedikit strain proteus yang sucrose positif ddapat tumbuh berwarna kuning seperti koloni Vibrio.Pencampuran indicator bromothymol-biru menubah warna menjadi biru, kemudian asam dibentu meskipun di media yang alkalinitasnya kuat.
Kandungan : pepton dari kasein, pepton dari daging, ekstrak yeast, NaCl, sucrose, sodium chloride, empedu lembu jantan,sodium choklate,iron (III) citrat
Agar-agar.
Pembuatan :
Larutkan 88g/L dan tuangkan ke plate.
Jangan diautoclave PH 8.6±0.2 pada suhu 25 0C.
Gambar : TCBS yang ditumbuhi bakteri V. cholera 
SS( Shalmonella Shigella)
Kegunaan : Untuk isolasi salmonella dan shigella.
Prinsip kerja : Briliant green,dan empedu lembu jantan dan konsentrasi tinggi thiosulfat dan citrate sebagian besar menghambat mikroba yang mengiringi.sulfida yang diproduksi dideteksi dengan penggunaan thiosulfation dan besi. Keberadaan bakteri coliform ditetapkan oleh deteksi penurunan laktosa ke asam dengan Ph indicator merah netral.
Kandungan : pepton ,laktosa, empedu lembu jantan, Nacitrat, natrium thiosulfat, ammonium besi (III) ctrat, brilliant green, netral re, agar-agar.
Pembuatan : larutkan 60g/L secarar sempurna,tuangkan kedalam plate.
Jangan autoclave PH 7.0±0.2 pada suhu 25 0C.
SPS( Sulfite Polimyxin sufadiazine )
Kegunaan : Untuk isolasi dan perhitungan clostridium perfringen dan clostridium perfringen semua tipe dari bahan makanan.
Prinsip kerja : Sulfite polymixin Sulfadiazin Agar berisi nutrient yang spectrum nya luas.Sulfit direduksi sebagian besar clostridium(termasuk Cl. Perfringen) menjadi sulfide,yang bereaksi dengan besi citrate dan menyebabkan koloni berubah menjadi hitam. Mikroorganis me lain yang dapt mereduksi sulfit di tekan oleh polymixin dan sulfadiazine.
Kandungan : Pepton dari kasein, ekstrak yeast, besi (III) citrate, sodium sulfat, polimixin B sulfate, sodium sulfadiazine, agag-agar.
Cara pembuatan : Larutkan 40g/ liter autoclave ( 15 menit 121 0C) PH 7.0±0.2 pada suhu 25 0C. pertumbuhan dari clostridia yang sensitive sulfit yang juga di pelihatkan
BK (Brusella Kanamisin)
Kegunaan : Untuk media selektif khusus untuk bakteri Clostridium,dengan penambahan Disk Obat Metronidase.
*Clostridium sensitive dengan metronidase.
Cetrimide
Untuk isolasi dan difrensiasi pseudomonas aerogenosa dari berbagai Janis bakteri lainya.
Prinsip kerja : Cetrimide sebagian besar menhambat pertumbuhan bakteri yang yang mengiringi pertumbuhan Ps. Aerogenosa.Konsentrasi ).3g/L menhambat bakteri yang mengiringi dengan memuasakan dan meminimalkan gangguan terhadap pertumbuhan Ps. Aerogenosa.Produksi pigmen tidak dihambat sewaktu tumbuh pada media ini.Warna pigmen kuning-hijau.
Kandungan : Pepton dari gelatin, magnesium klorida, potassium sulfat, ccetrimide, agar-agar.
Cara pembuatan :
Laruutkan 44.5 g/L tambah 10 ml gliserol/L,autoclave (15 menit 121 0C)tuangkan ke plate.PH 7 .0±0.2
Gambar : Cetrimide yang ditumbuhi bakteiri Pseudomonas aerogenosa.
KF Streptococccus
Kegunaan : Media selektif Sterptococcus spesies Enterococci .Untuk deteksi dan penghitungan enterococci.
Prinsip kerja : Maltose dan dan lactose di metabolism sebagian besar enterococci dengan dengan produsi asam dan jadi menignkatkan pertumbuhan bakteri ini,mikroorganisme yang tidak diinginkan sebagian besar ditekan sodium acid. Bentuk asam dideteksi oleh bromcresoll ungu dengan perubahan warna ke warna media menjadi kuning. Enterococci menurunkan TTC memberi fomazan merah dan jadi terlihat sebagai koloni yang berwarna merah.
Kandunan : Proteose pepton, extrack yeast, sodiumclorida, sodium glicerolphopat, maltose, lactose, sodiumacid, bromocresol purple, agar2, triphenil tetrazolium acid.
Hasil positif (tersangka) : enterococcus faecalis, E.hirae dan E. eqiunus koloni berwarna merah dengan zona kuning disekitar koloni.
Cara pembuatan :
76,4 gram dilarutkan dalam 1L aquadest kemudian sterilkan dengan autoclave 121 0C selama 5 menit.Kemudian ditambah Triphenil tetrazolium Clorid 1%(1ml/100 ml larutan) ketika suhu 50C. Tuang di petridish.
Gambar : KF treptococci yang di tumbuhi enterococci.
Baird Parker
Kegunaan : untuk isolasi dan penghitungan Staphylococcus aureus pada makanan dan bahan pharmasi menurut BAIRD PARKER (1962)
Prinsip kerja : Media ini berisi Lithium clorida dan tilurit untuk menghambat pertumbuhan mikroba yang mengiringi, sementara sementara pyruvat dan glysin merangsang pertumbuhan staphylococcus.
Koloni staphylococcus memperlihatkan dua karakteristik utama ketika tumbuh pada medium gelap(gelap karena berisi kuning telur)
  1. Karakteristik zona dan cincin di bentuk sebagai hasil dari lipolysis dan proteulisis.
  2. Reduksi dari tellurit ke tellurium membentuk warna hitam.
Reaksi kuning telur dan reduksi tellurit sering ditemukan terjadi bersama reaksi koagulasi positif dan dapat jadi petunjuk akhir.
kandungan : pepto dari kasein, ekstrak daging, ekstrak yeast, Natrium pyruvat, glysin, lithium kolorida, aga-agar,
Tambahan : kuning telur emulsi tellurit, sulphamethazin (jika di minta)
Cara Kerja :
Suspensi bakteri ditanam dengan car goresan sjajar pada empat kuadaran media.
Inkubasi 24 jam suhu 37 0C
Ciri Koloni :
Stphylococcus aureus :Hitam,berkilap/licin, cembung,tepi putih dikelilingi zona terang. Cincin gelap dengan zona terang terluhat setelah inkubasi 48jam.
S. epidermidis :Hitam, mengkilap, bentuk tidak tertur, zona gelap mengelilingi koloni setalah inkubasi 24jam.
Foto : Baird Parker yang di tumbuhi bakteri
Yersinnia Selective Agar
Media pertumbuhan selektif untuk Y enterocolitica dan Y pseudituberculosis.
Prinsip :
Mikroorganisme yang mengirin di hambat sebagian besar oleh campuran antibiotic(yersinia selective supplement’CIN”)Kristal violet dan garam empedu.Pertumbuhan yersinia walaupun ditingkatkan oleh piruvat dan nutrient yang tinggi)yersinia menurun kan keberadaaan manithol ke bentuk asam,oleh karena itu koloni berubah warna menjadi merah karena indicator phenol red.
Kandungan:
Pepton dari kasein, pepton dari daging, ekstrak yeas, mannitol, sodiumpirufat, sodium clorida, magnesium sulfat, campuran garam empedu, netral red, cristal violet,agar-agar.
Pembuatan:
Larutkan 58.5 g/Lautoclave, dinginkan sampai suhu 45-50 0C.Tambahkan satu botol kecil CNN ke dalam 500ml media dan campurkan dibawah kondisi sterril,tuangkan dalam plate.

PH 7.4±0.2 pada suhu 25 0C

:santovi
Share:

Ulasan Singkat Mengenai Askariasis

Ulasan Singkat Mengenai Askariasis

Telur Cacing Ascaris Lumbricoides
Askariasis adalah suatu penyakit yang disebabkan infeksi cacing spesies Ascaris lumbricodes. Cacing Ascaris lubricoides hidup dalam usus penderita, dan larvanya dapat dijumpai pada paru-paru sehingga mengganggu fungsi paru-paru

Morfologi
Cacing Dewasa: Mempunyai bentuk dan warna mirip cacing tanah.Cacing jantan panjangnya mencapai 30 cm,pada cacing jantan ujung posteriornya lancip dan melengkung kearah ventral, dilengkapi papil kecil dan 2 buah speculum berukuran 2mm, Sedang Cacing betinapanjangnya mencapai 35 cm posteriornya membulat dan lurus, dan setengah anteriornya terdapat cincin kopulasi.
Telur Cacing: Telur cacing memiliki empat bentuk, yaitu tipe dibuahi (fertilized), tidak dibuahi ( avertilized), matang, dan decorticated. Telur yang dibuahi oval, dinding tebal, terdiri dua lapis (lapisan luar albuminoid dan lapisan dalam jernih), isi telur berupa masa sel telur. Telur yang tidak dibuahi berbentuk lonjong dan lebih panjang dari sel telur yang dibuahi, dan dinding lebih tipis, isi masa granula refraktil.Telur matang berisi larva (embrio). Telur yang decorticated tidak dibuahi, tapi lapisan albuminoid sudah hilang.

Epidemologi
Askariasis banyak diderita penduduk dunia, terutama yang hidup didaerah tropis dan subtropis yang beriklim panas dan sanitasi buruk.
Infeksi askariasis terjadi karena tertelan telur cacing yang infektif yang terdapat dalam makanan ataua minuman yang tercemar tinja.

Diagnosis
Pada infeksi ringan, gejala klinis tidak jelas dan keluhan pendeita tidak khas, berupa nyeri abdomen dan timbul manifestasi alergi.
Pada infeksi berat dapat menimbulkan komplikasi dan gejala yang sesuai seperti Volulus,intususeosi ususobstruksi ususalergi berat.
Pemeriksaan Makroskopis Tinja: Dapat ditemukan adanya cacing Ascaris dewasa yang berbentuk khas , dengan panjang mencapai 30 cm.
Pemeriksaan Mikroskopis Tinja: Ditemukan telur cacingg yang berbentuk khas.
Pemeriksaan Darah : Terjadi Eosinofilia (Eosinofil >4%)

Pengobatan
Menggunakan obat-obat cacing (antelmintik) seperti Mendazol, Pirantel pamoat, Levamizol, Bepheminium hidroksinaftoat, Piperazine sitrat.

Pencegahan
Ascaris lumbricoides termasuk  Soil Transmited Helminth, yang berarti cacing yang dapat ditularkan melalui tanah, sehingga pencegahannya adalah menjaga agar makanan dan minuman tidak tercemar tanah yang mengandung telur cacing. Pembuatan kakus yang benar dapat mencegah terjadinya pencemaran tanah dan reinfeksi.

:santovi
Share:

TITRASI IODOMETRI-PENENTUAN KADAR IODA PADA GARAM DAPUR

PENENTUAN KADAR IODA PADA GARAM DAPUR
III.          Prinsip
Titrasi iodometri (redoksimetri) termasuk dalam titrasi dengan cara tidak langsung, dalam hal ini ion iodide sebagai pereduksi diubah menjadi iodium yang nantinya dititrasi dengan larutan baku Na2S2O3. Cara ini digunakan untuk penentuan oksidator H2O2. Pada oksidator ditambahkan larutan KI dan asam sehingga akan terbentuk iodium yang akan dititrasi dengan Na2S2O3. Sebagai indicator, digunakan larutan kanji. Titik akhir titrasi pada iodometri apabila warna biru telah hilang.
IV.          Dasar Teori
    Titrasi reduksi oksidasi (redoks) adalah suatu penetapan kadar reduktor atau oksidator berdasarkan atas reaksi oksidasi dan reduksi dimana reduktor akan teroksidasi dan oksidator akan tereduksi.
Dasar dari cara iodometri adalah reaksi kesetimbangan dari iodium dan iodide
I2 + 2e         2I- dengan demikian 1 grol I2 = 2 grek.
Titrasi dengan iodometri dapat dibagi menjadi 2 cara :
1.   Cara langsung
     Iodimetri merupakan analisis titrimetri yang secara langsung digunakan untuk zat reduktor atau natrium tiosulfat dengan menggunakan larutan iodin atau dengan penambahan larutan baku berlebihan. Kelebihan iodin dititrasi kembali dengan menggunakan larutan tiosulfat. (Saragih,-)
Reduktor + I2 → 2I-
Na2S2O+ I2 → NaI + Na2S4O6
2.   Cara tidak langsung
     Iodometri adalah analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang bersifat oksidator seperti besi III, tembaga II. Zat–zat ini akan mengoksidasi iodida yang ditambahkan membentuk iodin. Iodin yang terbentuk ditentukan dengan menggunakan larutan baku natrium tiosulfat. (Saragih,-)
Oksidator + KI →  I2 + 2e
I2 + Na2S2O→ NaI + Na2S4O6
      Dalam hal ini iodide sebagai perediksi diubah menjadi iodium. Iodium yang terbentuk dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat. Cara iodometri digunakan untuk untuk menentukan zat pengoksidasi, misalnya penentuan zat oksidator H2O2. Pada oksidator ini ditambahkan larutan KI dan asam sehingga akan terbentuk iodium yang kemudian dititrasi dengan Na2S2O3.
Reaksi :
H2O2 + KI + HCl  I2 + KCl + 2H2O 
Pembakuan Larutan Na2S2O3 
     Pembakuan Larutan Na2S2O3 dengan Larutan Baku KIO3, Percobaan ini menggunakan metode titrasi  iodometri yaitu titrasi tidak langsung dimana mula-mula iodium direaksikan dengan iodida berlebih, kemudian iodium yang terjadi dititrasi dengan natrium thiosulfat. Larutan baku yang digunakan untuk standarisasi thiosulfat sendiri adalah KIO3 dan terjadi reaksi:
Oksidator + KI  I2 
I2 + 2Na2S2O3  2NaI + Na2S4O6
     Natrium tiosulfat dapat dengan mudah diperoleh dalam keadaan kemurnian yang tinggi, namun selalu ada saja sedikit ketidakpastian dari kandungan air yang tepat, karena sifat flouresen atau melapuk-lekang dari garam itu dan karena alasan-alasan lainnya. Karena itu, zat ini tidak memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai larutan baku standar primer.

      Pembakuan larutan natrium tiosulfat dapat dapat dilakukan dengan menggunakan kalium iodat, kalium kromat, tembaga dan iod sebagai larutan standar primer, atau dengan kalium permanganat atau serium (IV) sulfat sebagai larutan standar sekundernya. Larutan thiosulfat sebelum digunakan sebagai larutan standar dalam proses iodometri ini harus distandarkan terlebih dahulu oleh kalium iodat yang merupakan standar primer. Larutan kalium iodat ini ditambahkan dengan asam sulfat pekat, warna larutan menjadi bening. Dan setelah ditambahkan dengan kalium iodida, larutan berubah menjadi coklat kehitaman. Fungsi penambahan asam sulfat pekat dalam larutan tersebut adalah memberikan suasana asam, sebab larutan yang terdiri dari kalium iodat dan klium iodida berada dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah. Reaksinya adalah sebagai berikut :
IO3- + 5I- + 6H+ → 3I2 + 3H2O
     Indikator yang digunakan dalam proses standarisasi ini adalah indikator amilum 0,5%. Penambahan amilum yang dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan sifat I2 yang mudah menuap. Pada titik akhir titrasi iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran sehingga warna biru mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas. Penggunaan indikator ini untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat titik akhir titrasi. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan. Kompleks iodium-amilum memiliki kelarutan yang kecil dalam air, sehingga umumnya ditambahkan pada titik akhir titrasi.

V.             Alat dan Bahan
Alat
Bahan
1.      Buret 50 mL
2.      Beaker glass
3.      Neraca analitik
4.      Spatel
5.      Gelas ukur
6.      Labu takar 500 mL
7.      labu takar 250 mL
8.      pipet volume 25 mL
9.      gelas arlogi
10.  batang pengaduk
11.  Erlenmeyer
12.  Pipet ukur 5 mL
13.  Botol tertutup
1.      Na2S2O3
2.      Na2O3
3.      Air suling
4.      I2
5.      KI
6.      H2SO4 2N
7.      Amilum
8.      As2O3
9.      NaOH 1N
10.  Garam dapur
11.  Label
VI.          Cara Kerja
·         Pembuatan Larutan NaS2O3 0,005 N
1.      0,6205 gram NaS2O3 ditimbang dalam gelas arloji pada neraca analitik
2.      Dimasukkan ke dalam gelas beaker kemudian dilarutkan dengan 50 ml aquades dan ditambahkan 10, g Na2CO3.
3.      Larutan diaduk hingga homogen dan dipindahkan ke dalam labu ukur 500 mL.
4.      Larutan lalu diencerkan dengan air suling bebas CO2 sampai volume larutan 500 mL
5.      Simpan dalam botol yang tertutup dan diberi label.
·         Pembuatan Larutan KIO3 0,005 N
1.      0,0891 gram kristal KIOditimbang dengan gelas arloji pada neraca analitik.
2.      Dilarutkan dengan aquades kemudian dipindahkan ke dalam labu takar 500 mL.
3.      Ditambahkan aquades sampai tepat pada tanda 500 mL.
·         Pembuatan Larutan H2SO2N 100 mL
1.      Disiapkan labu ukur 100 mL yang telah diisi aquades + ¾ volumenya.
2.      H2SO4 pekat (36N) dipipet dan dimasukkan ke dalam labu ukur yang telah disiapkan lewat dinding.
3.      Ditambahkan aquades sampai tanda 100 mL kemudian dikocok.
·         Standarisai NaS2O3 0,005 N dengan KIO3 0,005 N
1.      Dipipet 25 mL KIO3 0,005 N dan dimasukkan dalam Erlenmeyer.
2.      Ditambahkan 2 gram KI yang bebas iodat dan 5 mL H2SO4 2N.
3.      Larutan ditirasi dengan Natrium Thiosulfat yang akan ditentukan normalitasnya.
4.      Saat warna kuning hampir menghilang, titrasi dihentikan dan ditambahkan indicator amilum.
5.      Titrasi dilanjutkan sampai warna biru larutan tepat hilang.
6.      Dihitung normalitas NaS2O3.
·         Penentuan Kadar Iodat pada Garam Dapur
1.      Ditimbang 25 gram garam.
2.      Ditambahkan aquades dengan volume 125 mL.
3.      Ditambahkan 2 gram KI yang bebas iodat.
4.      Ditambahkan 5 mL asam sulfat 2N.
5.      Dititrasi dengan larutan Natrium Thiosulfat yang telah diketahui normalitasnya.
6.      Saat warna kuning iodium hampir hilang, titrasi dihentikan dan ditambahkan indicator amilum.
7.      Titrasi dilanjutkan sampai warna biru larutan tepat hilang
8.      Dihitung kadar iodum dalam garam dapur.
VII.       Hasil Pengamatan
Sebelum ditambahkan indicator, larutan KIO3 berwarna bening. Setelah ditambahkan H2SO4, larutan menjadi berwarna kuning. Saat warna kuning hilang, ditambahkan indicator kanji, dan pemberian indicator kanji, larutan menjadi berwarna biru. Setelah warna biru larutan titrat hilang, titrasi dihentikan. Volume titran dicatat sebagai vol. titrasi.
Perhitungan.
Hasil titrasi Na2S2O3 0,005 N dengan KIO3 0,005 N:                        
Vol. titrasi 1 : 25 ml
Vol. titrasi 2 : 25,8 ml
Vol. titrasi 3 : 24,6 ml
Vol. titrasi rata – rata : 25,133 ml
KIO3                 = Na2S2O3
V1 . N1              = V2 . N2
25 ml . 0,005 N = 25,133 ml . N2
0,125                 = 25,133 . N2
N2                     = 0,0049 N
Jadi normalitas dari Na2S2O3 pada titrasi iodometri ini adalah 0,0049 N
sampel
Volume Titrasi (ml)
Kadar Iodium
I
II
II
Rata-rata
I
6,3
6
6
6,1
42,64 ppm
II
0,2
0,4
-
0,3
2,097 ppm
III
1,7
2
1,9
1,87
13,073 ppm

VIII.    Pembahasan
Iodometri adalah analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang bersifat oksidator seperti besi III, tembaga II. Zat–zat ini akan mengoksidasi iodida yang ditambahkan membentuk iodium. Iodium yang terbentuk ditentukan dengan menggunakan larutan baku natrium tiosulfat. Cara iodometri dapat digunakan untuk menentukan kadar iodium dalam garam. Pada oksidator/ garam ini ditambahkan larutan KI dan H2SO4 sebagai asam sehingga akan terbentuk iodium yang kemudian dititrasi dengan Na2S2O3 dan dapat ditentukan kadarnya. Namun, sebelumnya, larutan Na2S2Oini harus dibakukan atau distandarisasi terlebih dahulu. Pembakuan larutan natrium tiosulfat dapat dapat dilakukan dengan menggunakan kalium iodat, kalium kromat, tembaga dan iod sebagai larutan standar primer, atau dengan kalium permanganate. Namun pada percobaan ini senyawa yang digunakan dalam proses pembakuan natrium tiosulfat adalah kalium iodat standar. Larutan thiosulfat sebelum digunakan sebagai larutan standar dalam proses iodometri ini harus distandarkan terlebih dahulu oleh kalium iodat yang merupakan standar primer. Larutan kalium iodat ini ditambahkan dengan asam sulfat pekat, warna larutan menjadi bening. Dan setelah ditambahkan dengan kalium iodida, larutan berubah menjadi kuning kecoklatan. Fungsi penambahan asam sulfat pekat dalam larutan tersebut adalah memberikan suasana asam, sebab larutan yang terdiri dari kalium iodat dan klium iodida berada dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah. Reaksinya adalah sebagai berikut :
IO3- + 5I- + 6H+ → 3I2 + 3H2O 
Untuk senyawa yang memiliki potensial reduksi yang rendah dapat direaksikan secara sempurna dalam suasana asam. Indikator yang digunakan dalam metode ini adalah indikator kanji (amilum) yang dapat membentuk senyawa absorpsi dengan iodium yang dititrasi dengan larutan Natrium Tiosulfat. Penambahan amilum yang dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan sifat I2 yang mudah menguap. Pada titik akhir titrasi iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran sehingga warna biru mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas.  Titik akhir titrasi iodometri ialah apabila warna biru telah hilang.
IX.          Simpulan
  1. Untuk standarisasi Na2S2O3 dengan larutan KIO3 digunakan titrasi dengan metode iodometri karena Na2S2Odapat dioksidasi oleh KIO3 dengan penambahan KI dan asam sulfat.
  2. Larutan Na2S2O3 digunakan sebanyak 25,133 ml untuk titrasi 25 ml CaCO3. Titik akhir titrasi terjadi saat larutan titrat kehilangan warna biru.
  3. Penentuan kadar iodium dalam garam dilakukan dengan metode iodometri karena iodium akan dihasilkan dari reaksi redoks oleh Na2S2O3. Kadar Iodium garam I adalah 42,64 ppm, garam II adalah 2,097 ppm dan garam III memiliki kadar iodium 13,073 ppm. Sehingga, garam I adalah garam yang memiliki kadar iodium paling banyak.
:santovi
Share:

Definition List

Unordered List

Support