This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, 25 November 2015

Laporan Praktikum Reaksi RedOks

Laporan Praktikum Reaksi RedOks

PERCOBAAN II
TITRASI OKSIDASI REDUKSI

A.          TUJUAN PERCOBAAN
1.      Mempelajari reaksi reduksi oksidasi
2.      Menghintung konsentrasi KMnO4
3.      Menghitung konsentrasi (COOH)2

B.          DASAR TEORI
Dari sejarahnya istilah oksidasi diterapkan untuk proses-proses dimana oksigen diambil oleh suatu zat. Maka reduksi dianggap sebagai proses dimana oksigen diambil dari dalam suatu zat. Kemudian penangkapan hidrogen juga disebut reduksi, sehingga kehilangan hidrogen disebut oksidasi.
 Contoh reaksi:
                     2Fe3+ + Sn2+  Ã› 2Fe2+ + Sn4+
Melihat contoh reaksi ini dapat ditarik beberapa kesimpulan umum definisi oksidasi dan reduksi dengan cara berikut :
1.      Oksidasi adalah suatu proses yang mengakibatkan hilangnya satu elektron atau lebih dari dalam zat (atom, ion, atau molekul). Bila suatu unsur dioksidasi, keadaan oksidasinya berubah ke harga yang lebih positif. Suatu zat pengoksidasi adalah zat yang memperoleh elektron, dan dalam proses itu zat direduksi.
2.      Reduksi sebaliknya adalah suatu proses yang mengakibatkan diperolehnya satu elektron atau lebih oleh zat (atom,ion, atau molekul). Bila suatu unsur direduksi, keadaan oksidasi berubah menjadi lebih negatif (kurang positif). Jadi suatu zat pereduksi adalah zat yang kehilangan elektron, dalam proses itu zat ini dioksidasi,
3.      Dari contoh reaksi nampak bahwa oksidasi dan reduksi selalu berlangsung dengan serempak. Ini sangat jelas, karena elektron (elektron-elektron) yang dilepaskan oleh sebuah zat harus diambil oleh zat yang lain (svehla 1985).

Titrasi berdasarkan reaksi redoks yaitu perpindahan elektron, disini terdapat unsr-unsur yang mengalami perubahan tingkat oksidasi. Contoh-contohnya :
                 5(COOH)+ 2KMnO+ 3H2SOÛ 10CO+ 8H2O + K2SO4 + 2MnSO4
                                    Ce4+ + Fe2+ Ã›  Ce3+ + Fe3+
                                         I2 + 2Na2S2OÛ 2NaI + Na2S2O3
Titrasi berdasarkan reaksi redoks sering dibedakan menjadi :
1.      Titrasi iodometri atau iodimetri, yaitu titrasi-titrasi yang menyangkut reaksi larutan iod.
2.  Titrasi berdasarkan penggunaan oksidator kuat seperti KMnO4, K2Cr2O7, Ce(SO4)2, atau reduktor kuat. Kadang-kadang titrasi yang menggunakan KMnO4 sebagai titrant dinamakan juga permanganometri.
Kalium permanganat merupakan oksidator kuat yang dapat bereaksi dengan cara yang berbeda-beda, tergantung dari pH larutannya. Kekuatannya sebagai oksidator juga berbeda-beda sesuai dengan reaksi yang terjadi pada pH yang berbeda itu. Reaksi yang bermacam ragam ini disebabkan oleh keragaman valensi mangan, dari 1 sampai dengan 7 yang semuanya stabil kecuali valensi 1 dan 5.
Reduksi MnO2berlangsung sebagai berikut :
1.      Dalam larutan asam, [H+] 0,1 N atau lebih
        MnO4- + 8H+ + 5e Ã› Mn2+ + 4H2O                                  Eo = 1,51 volt
2.      Dalam larutan netral, pH 4 – 10
        MnO4- + 4H+ + 3e  Ã› MnO2 + 2H2O                                Eo = 1,70 volt
3.            Dalam larutan basa, [OH-] 1 N atau lebih
           MnO4- + e Ã› MnO42-                                                         Eo = 0,56 volt
Titrasi dengan KMnO4 kebanyakan dilakukan dengan cara langsung atas analat yang dapat dioksidasi seperti misalnya Fe2+, asam/garam oksalat yang dapat larut, dan sebagainya (Harjadi 1990).
Kalium permanganat bukanlah suatu standar primer. Zat ini sukar diperoleh sempurna murni dan bebas sama sekali dari mangan oksida. Lagi pula, air suling yang biasa mungkin mengandung zat-zat pereduksi (runutan bahan-bahan organik, dan sebagainya), yang akan bereaksi dengan kalium permanganat itu dengan membentuk mangan dioksida. Adanya zat tersebut sangantlah mengganggu, karena ia mengkatalisis penguraian sendiri dari larutan permanganat setelah didiamkan. Penguraian :
             4MnO4- + 2H2Û 4MnO2 + 3O2 + 4OH-
dikatalis oleh mangan dioksida padat. Permanganat tak stabil dengan adanya ion-ion Mn2+ (Basset 1994) :
               2MnO4+ Mn2+ + 2H2Û  5MnO2 + 4H+


C.             ALAT DAN BAHAN
        A.    Alat yang digunakan
1.      Buret 50ml
2.   Klem  dan Statif                                                     
4.      Corong                        
5.      Erlenmeyer                  
6.      Pipet gondok 10 ml      
7.      Pipet gondok 25 ml      
8.      Termometer                 
9.      Hot plate                     
10.  Gelas ukur 25 ml          
11.  Gelas beaker 50 ml       

B.     Bahan yang digunakan
1.      Larutan KMnO4 0,02 M
2.      Larutan (COOH)2 0,05 M
3.      Larutan (COOH)2 unknown
4.      Larutan H2SO4 3 M
5.      Aqudest

D.             CARA KERJA
A.    Standarisasi Larutan KMnO4
1.      Dipipet 10ml larutan (COOH)2 0,05 M ke dalam 3 buah erlenmeyer
2.      Ditambahkan  15 ml aquades ke dalam masing-masing erlenmeyer
3.      Ditambahkan perlahan-lahan 25 ml larutan H2SO4 3 M
4.     Cuplikan dipanaskan sampai suhu 70-80oC, suhu diukur dengan termometer
5.  Cuplikan dititrasi dalam keadaan panas dengan KMnO4 0,02 M dalam buret, warna KMnOsebagai indikator

B.     Analisis Larutan (COOH)unknown
1.      Dipipet 10 ml larutan (COOH)2 unknown ke dalam 3 buah erlenmeyer
2.      Ditambahkan 15 ml aquades ke dalam masing-masing erlenmeyer
3.      Ditambahkan perlahan-lahan 25 ml larutan H2SO4 3 M
4.      Cuplikan dipanaskan sampai suhu 70-80oC, suhu diukur dengan termometer 
5.      Cuplikan dititrasi dalam keadaan panas dengan KMnO4 0,02 M standar dalam buret, warna KMnOsebagai indikator

E.             DATA PERCOBAAN
   Tabel II.I  Data Standarisasi Larutan KMnO4
Sampel
(COOH)0,05 M
KMnO4
Cuplikan 1
10 ml
10,7 ml
Cuplikan 2
10 ml
10,5 ml
Cuplikan 3
10 ml
10,5 ml
Rata – Rata Cuplikan
10,56 ml

               Tabel II.II  Standarisasi Larutan KMnO4
Sampel
KMnO4
Molaritas KmnO4
Rata-rata Molaritas KmnO4
Rata–rata Berat KMnO4
Cuplikan 1
10,7 ml
0,02 M
0,02 M
0,0332 gr
Cuplikan 2
10,5 ml
0,02 M
Cuplikan 3
10,5 ml
0,02 M

   Tabel II.III  Data Analisis Larutan (COOH)unknown
Sampel
(COOH)unknown
KMnO4
Cuplikan 1
10 ml
10,6 ml
Cuplikan 2
10 ml
10,1 ml
Cuplikan 3
10 ml
10,1 ml
Rata – Rata Cuplikan
10,23 ml

        Tabel II.IV  Analisis Larutan (COOH)unknown
Sampel
KMnO4
Molaritas (COOH)2unknown
Rata-rata Molaritas (COOH)2unknown
Rata–rata Berat (COOH)2unknown
Cuplikan 1
10,6 ml
0,05 M
0,05 M
0,0460 gr
Cuplikan 2
10,1 ml
0,05 M
Cuplikan 3
10,1 ml
0,05 M

F.             PERHITUNGAN
         
            
            
           
            
          
           
           


G.             PEMBAHASAN
Praktikum yang telah dilakukan merupakan titrasi reduksi oksidasi atau sering disingkat menjadi titrasi redoks yang menggunakan metode permanganometri. Prinsip dasar dari titrasi reduksi oksida ialah mereaksikan sejumlah tertentu zat yang akan dianalisa yang memiliki bilangan oksidasi dan potensial reduksi tertentu dengan standar bilangan oksidasi dan juga memiliki harga potensial reduksi tertentu yang memungkinkan untuk bereaksi.
Salah satu percobaan yang dilakukan berdasarkan titrasi reduksi oksidasi ialah standarisasi larutan baku KMnO4 dengan bahan baku asam oksalat yang sudah diketahui konsentrasinya dan menentukan konsentrasi (COOH)2 unknown. Hal pertama yang harus dilakukan ialah memipet 10 ml asam oksalat ke dalam erlenmeyer. Kemudian ditambahkan H2SO4 3 M yang memberikan suasana asam dan dipanaskan diatas hot plate sampai suhu mencapai 70-80oC yang diukur menggunakan termometer. Seteleh itu dititrasi dengan KMnOsampai berubah warna dari larutan bening menjadi merah muda.
Fungsi penambahan asam sulfat ialah untuk memberikan suasana asam. Untuk mempercepat reaksi, cuplikan dipanaskan terlebih dahulu sebelum dititrasi. Pemanasan dilakukan pada suhu sampai sekitar 80oC, tetapi jangan sampai melebihi 80oC karena pada suhu tersebut asam oksalat  akan terurai menjadi H2O + CO + COdan pada suhu kurang dari 80oC reaksi akan berjalan lambat. Setelah pemanasan larutan asam oksalat yang sudah ditambah H2SOlangsung dititrasi dengan KMnO4. Dalam titrasi ini tidak menggunakan indikator tambahan, karena larutan KMnOmemiliki warna yang dapat menunjukkan titik akhir titrasi atau yang lebih dikenal bersifat autoindikator.
Reaksi yang terjadi ialah :
2KMnO4 + 5(COOH)2+ 3H2SO® 10CO2 + 2KMnO4 + 3 H2SO4 +5H2
Kalium permanganat merupakan oksidator kuat karena memiliki harga potensial reduksi yang besar yang berarti KMnOsangat mudah direduksi sehingga memiliki daya oksidasi (sifat oksidator) terhadap zat lain yang menjadi lawannya, dengan reaksi :
                     MnO4- + 8H+ + 5e Ã› Mn2+ + 4H2O
Berdasarkan reaksi, kalium permanganat hanya bersifat oksidator kuat dalam suasana asam, tetapi pada suasana basa daya oksidasi kalium permanganat rendah sehingga harus ditambahkan H2SO4.
Dalam pembuatannya, larutan kalium permanganat dilarutkan dengan aquades kemudian dipanaskan diatas penangas air selama 10-15 menit untuk mempercepat oksidasi zat organik dalam air dan membentuk endapan MnO2. Setelah dingin, larutan disimpan dalam keadaan tertutup selama semalam untuk kemudian disaring menggunakan kaca masir dan disimpan dalam botol reagen gelap untuk menghindari penguraian MnO4menjadi MnO2 kembali yang disebabkan oleh cahaya.

H.             KESIMPULAN
1.   Reaksi oksidasi reduksi merupakan sejumlah reaksi dimana keadaan oksidasi berubah yang disertai dengan pertukaran elektron antara pereaksi.
2.  Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil konsentrasi larutan KMnOdengan menggunakan bahan baku  (COOH)yaitu 0,02 M.
3.    Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan konsentrasi (COOH)2unknown yaitu 0,05 M dengan menggunakan peniter Larutan KMnO0,02 M yang sudah distandarisasi.

:sant_
Share:

Laporan Titrasi Pengendapan - Argentometri

Laporan Titrasi Pengendapan - Argentometri

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1    LATAR BELAKANG
Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dari garam yang tidak mudah larut antara titran dan analit. Hal dasar yang diperlukan dari titrasi  jenis ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak adanya interferensi yang mengganggu titrasi, dan titik akhir titrasi yang mudah diamati.
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida ( Cl-, I-, Br) dengan ion perak Ag+. Titrasi ini biasanya disebut sebagai argentometri, yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida dengan menggunakan larutan standar perak nitrat AgNO3.
Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titrant dan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah larut.

1.2    TUJUAN PERCOBAAN
1.      Penetapan konsentrasi larutan AgNOdengan larutan NaCl 0,1N.
2.      Penetapan kadar Cl dalam air laut dan garam dapur dengan metode mohr.

3.      Penetapan kadar Cl dalam air laut dan garam dapur dengan metode fajans.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Pengertian Titrasi Pengendapan
Titrasi pengendapan adalah salah satu golongan titrasi dimana hasil reaksi titrasinya merupakan endapan atau garam yang sukar larut. Prinsip dasarnya ialah reaksi pengendapan yang cepat mencapai kesetimbangan pada setiap penambahan titran, tidak ada pengotor yang mengganggu serta diperlukan indikator untuk melihat titik akhir titrasi. Hanya reaksi pengendapan yang dapat digunakan pada titrasi. (Khopkar, 1990)

2.2    Pengertian Argentometri
Istilah argentometri diturunkan dari bahasa latin argentum, yang berarti perak. Jadi argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag+. Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat AgNO3. Dengan mengukur volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Agdapat tepat diendapkan, kadar garam dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan. (Underwood, 1992)

2.3    Cara Mohr
Pada metode ini, titrasi halide dengan AgNO3 dilakukan dengan K2CrO4. Pada titrasi ini akan terbentuk endapan baru yang berwarna. Pada titik akhir titrasi, ion Ag+ yang berlebih diendapkan sebagai Ag2CrO4 yang berwarna merah bata. Larutan harus bersifat netral atau sedikit bas, tetapi tidak boleh terlalu basa sebab Ag akan diendapkan sebagai Ag(OH)2. Jika larutan terlalu asam maka titik akhir titrasi tidak terlihat sebab konsentrasi CrO4- berkurang.
Pada kondisi yang cocok, metode mohr cukup akurat dan dapat digunakan pada konsentrasi klorida yang rendah. Pada jenis titrasi ini, endapan indikator berwarna harus lebih larut disbanding endapan utama yang terbentuk selama titrasi. Indikator tersebut biasanya digunakan pada titrasi sulfat dengan BaCl2, dengan titik akhir akhir terbentuknya endapan garam Ba yang berwarna merah. (Khopkar, 1990)

2.4    Cara Volhard
Titrasi Ag dengan NH4SCN dengan garam Fe(III) sebagai indikator adalah contoh metode volhard, yaitu pembentukan zat berwarna didalam larutan. Selama titrasi, AgSCN terbentuk sedangkan titik akhir tercapai bila NH4SCN yang berlebih bereaksi dengan Fe(III) membentuk warna merah gelap [FeSCN]2+.
Pada metode volhard, untuk menentukan ion klorida suasana haruslah asam karena pada suasana basa Fe3+ akan terhidrolisis. AgNO3 berlebih yang ditambahkan ke larutan klorida tentunya tidak bereaksi. Larutan Ag+ tersebut kemudian dititrasi balik dengan menggunakan Fe(III) sebagai indikator. (Khopkar, 1990)

2.5    Cara Fajans
Dalam titrasi fajans digunakan indikator adsorpsi. Indikator adsorpsi ialah zat yang dapat diserap pada permukaan endapan dan menyebabkan timbulnya warna. Penyerapan ini dapat diatur agar terjadi pada titik ekuivalen, antara lain dengan memilih macam indikator yang dipakai dan pH.
Indikator ini ialah asam lemah atau basa lemah organic yang dapat membentuk endapan dengan ion perak. Misalnya flouresein yang digunakan dalam titrasi ion klorida. Dalam larutan, flouresein akan mengion (untuk mudahnya ditulis HFI) :
                     HFI  Ã›  H+  +  FI-
Ion FI- inilah yang diserap oleh endapan AgX dan menyebabkan endapan berwarna merah muda.
Flouresein sendiri dalam larutan berwarna hijau kuning, sehingga titik akhir dalam titrasi ini diketahui berdasar tiga macam perubahan, yakni (i) endapan yang semula putih menjadi merah muda dan endapan terlihat menggumpal, (ii) larutan yang semula keruh menjadi lebih jernih, dan (iii) larutan yang semula kuning hijau hampir tidak berwarna lagi. (Harjadi, 1990)

2.6    Penetapan Titik Akhir Dalam Reaksi Pengendapan
A.    Pembentukan suatu endapan berwarna
Ini dapat diilustrasikan dengan prosedur mohr untuk penetapan klorida dan bromide. Pada titrasi suatu larutan netral dari ion klorida dengan larutan perak nitrat, sedikit larutan kalium kromat ditambahkan untuk berfungsi sebagai indikator. Pada titik akhir, ion kromat ini bergabung dengan ion perak untuk membentuk perak kromat merah yang sangat sedikit sekali dapat larut. Titrasi ini hendaknya dilakukan dalam suasana netral atau sangat sedikit sekali basa, yakni dalam jangkauan pH 6,59. (Bassett, 1994)

B.     Pembentukan suatu senyawaan berwarna yang dapat larut
Contoh prosedur ini adalah metode volhard untuk titrasi perak dengan adanya asam nitrat bebas dengan larutan kalium atau ammonium tiosianat standar. Indikatornya adalah larutan besi(III) ammonium sulfat. Penambahan larutan tiosianat menghasilkan mula-mula endapan perak klorida. Kelebihan tiosianat yang paling sedikitpun akan menghasilkan pewarnaan coklat kemerahan, disebabkan oleh terbentuknya suatu ion kompleks.
               Ag+  +  SCN-  Ã›  AgSCN
               Fe3+  + SCN-  Ã› [FeSCN]2+
Metode ini dapat diterapkan untuk penetapan klorida, bromide dan iodide dalam larutan asam. Larutan perak nitrat standar berlebih ditambahkan dan kelebihannya dititrasi balik dengan larutan tiosianat standar. (Bassett, 1994)
               Ag+  +  Cl-  Ã›  AgCl
               Ag+  +  SCN-  Ã›  AgSCN

C.     Penggunaan indikator adsorpsi
Aksi dari indikator-indikator ini disebabkan oleh fakta bahwa pada titik ekuivalen, indikator itu diadsorpsi oleh endapan dan selama proses adsorpsi terjadi suatu perubahan dalam indikator yang menimbulkan suatu zat dengan warna berbeda, maka dinamakan indikator adsorpsi.
Zat-zat yang digunakan adalah zat-zat warna asam, seperti warna deret flouresein misalnya flouresein an eosin yang digunakan sebagai garam natriumnya.
Untuk titrasi klorida, boleh dipakai flouresein. Suatu larutan perak klorida dititrasi dengan larutan perak nitrat, perak klorida yang mengendap mengadsorpsi ion-ion klorida. Ion flouresein akan membentuk suatu kompleks dari perak yang merah jambu. (Bassett, 1994)


BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1    ALAT DAN BAHAN 

3.1.1 Alat yang digunakan
a.       Batang pengaduk
b.      Botol timbang
c.       Bulp
d.      Buret 50 ml
e.       Corong
f.       Erlenmeyer 250 ml
g.      Kaca arloji
h.      Klem dan statif
i.        Labu ukur 100 ml
j.        Labu ukur 250 ml
k.      Neraca analitik
l.        Pipet gondok 25 ml
m.    Pipet tetes
n.      Pipet volume 10 ml

3.1.2 Bahan yang digunakan
a.       Larutan AgNO3 0,1 N
b.      Larutan NaCl 0,1 N
c.       Larutan K2CrO4 5%
d.      Indikator flouresein
e.       Sampel garam dapur
f.       Sampel air laut
g.       Aquadest

3.2    PROSEDUR KERJA
A.    Standarisasi larutan AgNO3 dengan menggunakan larutan NaCl 0,1 N
1.      Dipipet 10 ml larutan baku NaCl 0,1 N ke dalam Erlenmeyer
2.      Ditambahkan 1 ml larutan K2CrO4 5%
3.      Dititrasi dengan larutan AgNO3 hingga larutan berwarna coklat
4.      Dikocok hingga warna tidak hilang dan dicatat volume yang dibutuhkan

B.     Penetapan kadar Cl dalam air laut (Metode Mohr)
1.      Ditimbang 10 gram larutan cuplikan ke dalam botol timbang, diencerkan hingga 100 ml dengan aquadest
2.      Dipipet larutan tersebut 25 ml ke dalam Erlenmeyer
3.      Ditambahkan 5 tetes indikator K2CrO4 5%
4.      Dititrasi dengan larutan AgNO3 hingga larutan berwarna coklat merah yang tidak hilang setelah dikocok
5.      Dicatat volume yang dibutuhkan

C.     Penetapan kadar Cl dalam garam dapur (Metode Mohr)
1.      Ditimbang 0,6 gram garam dapur, dilarutkan ke dalam aquadest dan diterakan dalam labu ukur 100 ml
2.      Dipipet larutan tersebut 25 ml ke dalam Erlenmeyer
3.      Ditambahkan 5 tetes indikator K2CrO4 5%
4.      Dititrasi dengan larutan AgNO3 hingga larutan berwarna coklat merah yang tidak hilang setelah dikocok
5.      Dicatat volume yang dibutuhkan

D.    Penetapan kadar Cl dalam air laut (Metode Fajans)
1.      Ditimbang 10 gram larutan cuplikan ke dalam botol timbang, diencerkan hingga 100 ml dengan aquadest
2.      Dipipet larutan tersebut 25 ml ke dalam Erlenmeyer
3.      Ditambahkan 5 tetes indikator flouresein
4.      Dititrasi dengan larutan AgNO3 sampai terbentuk endapan merah muda
5.      Dicatat volume yang dibutuhkan

E.     Penetapan kadar Cl dalam garam dapur (Metode Fajans)
1.      Ditimbang 0,6 gram garam dapur, dilarutkan ke dalam aquadest dan diterakan dalam labu ukur 100 ml
2.      Dipipet larutan tersebut 25 ml ke dalam Erlenmeyer
3.      Ditambahkan 5 tetes indikator flouresein
4.      Dititrasi dengan larutan AgNO3 sampai terbentuk endapan merah muda
5.      Dicatat volume yang dibutuhkan

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1    DATA PENGAMATAN
A.    Standarisasi larutan AgNO3 dengan menggunakan larutan NaCl 0,1 N
Volume
I
II
x
Larutan NaCl
10 ml
10 ml
10 ml
Larutan AgNO3
10,2 ml
10,2 ml
10,2 ml

B.     Penetapan kadar Cl dalam air laut (Metode Mohr)
Volume
I
II
x
Sampel air laut
25 ml
25 ml
25 ml
Larutan AgNO3
13,1 ml
13,1 ml
13,1 ml

C.     Penetapan kadar Cl dalam garam dapur (Metode Mohr)
Volume
I
II
x
Sampel garam
25 ml
25 ml
25 ml
Larutan AgNO3
24,1 ml
24 ml
24,05 ml

D.    Penetapan kadar Cl dalam air laut (Metode Fajans)
Volume
I
II
x
Sampel air laut
25 ml
25 ml
25 ml
Larutan AgNO3
13,6 ml
13,5 ml
13,55 ml


E.     Penetapan kadar Cl dalam garam dapur (Metode Fajans)
Volume
I
II
x
Sampel garam
25 ml
25 ml
25 ml
Larutan AgNO3
34 ml
33,8 ml
33,9 ml

4.2    PERHITUNGAN
-        Pembuatan larutan standar AgNO3 0,1 N
             
-        Standarisasi larutan AgNO3 dengan larutan NaCl 0,1 N
             
-        Penentuan kadar Cl dalam air laut (Metode Mohr)
              
-        Penentuan kadar Cl dalam garam dapur (Metode Mohr)
              
-        Penentuan kadar Cl dalam air laut (Metode Fajans)
              
-        Penentuan kadar Cl dalam garam dapur (Metode Fajans)
              

4.3    REAKSI
-        Metode Mohr
AgNO3  +  NaCl  ®  AgCl¯  + NaNO3
                                    putih

2 AgNO3  + K2CrO4  ®  Ag2CrO4¯  +  2KNO3
                                        merah coklat

-        Metode Fajans
              AgNO3  +  NaCl  ®  AgCl¯  + NaNO3
                                                 putih

4.4    PEMBAHASAN
Dasar teori argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titran dan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana Ag+ dari titran akan bereaksi dengan Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah larut.
Metode yang digunakan pada standarisasi AgNO3 dengan NaCl adalah metode mohr dengan indikator K2CrO4. Penambahan indikator ini akan menjadikan warna larutan menjadi kuning. Titrasi dilakukan hingga mencapai titik ekuivalen. Titik ekuivalen ditandai dengan berubahnya warna larutan menjadi merah bata dan munculnya endapan putih secara permanen. Pada percobaan ini, larutan AgNO3 yang digunakan dibuat dengan melarutkan 8,49 gram AgNOdengan aquadest hingga volumenya 500 ml ke dalam labu ukur. Konsentrasi yang didapatkan adalah 0,0980 N dengan rata-rata volume titrasi 10,2 ml.
Pada percobaan kali ini dilakukan penentuan kadar Cl dalam sampel garam dapur dan air laut. Titrasi yang digunakan adalah argentometri dengan metode mohr dan fajans. Hal pertama yang dilakukan adalah membuat larutan sampel. Untuk sampel garam dapur ditimbang 0,6 gram yang dilarutkan dengan aquadest ke dalam labu ukur 100 ml. sedangkan untuk sampel air laut ditimbang 10 gram dan dilarutkan dengan aquadest ke dalam labu ukur 100 ml.
Pada metode mohr, sampel garam dan air laut dititrasi dengan larutan AgNOstandar dan larutan K2CrOsebagai indikator. Dari larutan garam dan air laut yang telah dibuat, masing-masing dipipet 25 ml untuk dititrasi. Pada awal penambahan, ion Cl- dari NaCl yang terdapat dalam larutan bereaksi dengan ion Ag+ yang ditambah sehingga membentuk endapan putih AgCl. Sedangkan larutan pada awalnya berwarna kuning karena penambahan indikator K2CrO5%. Saat terjadi titik ekuivalen yaitu saat ion Cl- tepat habis bereaksi dengan ion Ag+, penambahan AgNO3 yang sedikit berlebih menyebabkan ion Ag+ bereaksi dengan ion CrO42- dari indikator membentuk endapan putih dengan warna larutan merah bata. Dari percobaan yang dilakukan didapatkan kadar Cl sebesar 1,82 % untuk air laut, sedangkan kadar Cl pada garam dapur sebesar 55,78 %.
Pada metode fajans, penentuan kadar Cl dalam garam dan air laut menggunakan indikator adsorpsi yaitu indikator flouresein, dari larutan garam dapur dan air laut, masing-masing dipipet 25 ml ke dalam Erlenmeyer. Ditambahkan indikator flouresein akan membuat larutan menjadi warna kuning kemudian dititrasi dengan larutan AgNO3 standar dimana titik akhir titrasi dicapai saat larutan membentuk endapan merah muda. Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan kadar Cl dalam garam dapur sebesar 78,62 %, sedangkan kadar Cl dalam air laut sebesar 1,88 %.
Dari percobaan ini, dapat dibuktikan bahwa air laut dan garam dapur mengandung ion Cl-. Hal ini terlihat dari terbentuknya endapan putih yang menunjukkan jika ion Ag+ telah bereaksi terlebih dahulu dengan ion Cl- membentuk AgCl.

BAB 5
PENUTUP

5.1    KESIMPULAN
1.      Standarisai larutan AgNO3 dilakukan dengan metode mohr; larutan standar primer yang digunakan adalah NaCl 0,1 N dan larutan K2CrO4 sebagai indikator. Konsentrasi yang didapatkan adalah 0,0980 N.
2.    Penentuan kadar Cl dalam air laut dan garam dapur dengan metode mohr menggunakan larutan peniter AgNO3standar dan indikator K2CrO4. Titik akhir titrasi ditunjukkan dengan adanya endapan merah bata. Kadar Cl dalam air laut sebesar 1,82 % dan garam dapur 55,78 %.
3.      Penentuan kadar Cl dalam air laut dan garam dapur dengan metode fajans menggunakan indikator adsorpsi yaitu indikator flouresein. Titik akhir titrasi ditunjukkan dengan adanya endapan merah muda. Kadar Cl dalam air laut sebesar 1,88 % dan garam dapur 78,62 %.


:sant_
Share:

Definition List

Unordered List

Support